Kamis, 04 November 2010

Bahaya dalam Sebutir Telur

Share |
TEMPO/Dinul Mubarok
TEMPO Interaktif, Ontario-Dalam sebuah kajian di Canadian Journal of Cardiology, tiga dokter terkemuka memperingatkan adanya bahaya kolesterol dari makanan bagi mereka yang berisiko terkena serangan jantung atau stroke. Mereka menyatakan musuh terburuk yang harus diwaspadai adalah kuning telur, yang dapat mengandung kolesterol 215-275 miligram, bergantung pada ukurannya. Adapun beberapa jenis makanan siap saji dapat mengandung kolesterol hingga 150 miligram. Pasien yang berisiko penyakit kardiovaskuler disarankan agar membatasi asupan kolesterol di bawah 200 miligrm per hari.

Kajian studi itu dilakukan oleh pakar pencegahan stroke Dr David Spence dari University of Western Ontario, pakar nutrisi Dr David Jenkins dari Risk Factor Modification Center di Rumah Sakit St. Michael's di Toronto, serta pakar kolesterol Dr Jean Davignon dari Clinique de nutrition métabolisme et athérosclérose di Montreal. "Kami ingin meletakkan kolesterol ke dalam perspektif, karena ada kesalahpahaman di kalangan masyarakat Kanada, bahkan para dokter, bahwa konsumsi kolesterol dan kuning telur tidak berbahaya," kata Dr Spence, dosen dan ilmuwan di Schulich School of Medicine & Dentistry, Robarts Research Institute.

Kajian itu juga menelaah perbedaan antara kadar kolesterol saat puasa dan setelah makan. Mereka mendiskusikan dua studi besar yang memperlihatkan bahwa konsumsi telur tidak berbahaya bagi orang sehat. Ketiga pakar ini menunjukkan, dalam dua studi tersebut, penderita diabetes yang mengkonsumsi sebutir telur per hari akan melipatgandakan risiko terkena penyakit kardiovaskuler dibanding orang yang makan kurang dari sebutir telur seminggu. Studi itu juga memperlihatkan kenaikan tajam jumlah penderita diabetes baru yang mengkonsumsi telur secara reguler.

"Tak ada pertanyaan bahwa putih telur diklasifikasikan sebagai sumber protein kualitas tinggi yang amat bernilai," ujarnya. "Sebaliknya, kuning telur bukan sesuatu yang dapat dimakan orang dewasa tanpa memperhatikan risiko kardiovaskuler, kerentanan genetik terhadap serangan jantung, dan kebiasaan makan secara keseluruhan."

SCIENCEDAILY | TJANDRA

sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/sains/2010/11/04/brk,20101104-289390,id.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

google translate

Arsip Blog

Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free!